Langsung ke konten utama

5 Tips Anti Stress di Korea

Sekitar 2 minggu yang lalu Kakao Talk Grup  emak Muslimah di Korea a.k.a RUMAISA sempat dihebohkan dengan berita dari Mommy Meity --> emak paling  kece sejagad Korea (udah pinter masak, pinter ngajar, pinter bahasa korea pula) #ngiri.com *rasa rasanya saya bagaikan rempahan kremes ayam suharti.

Berita yang buat geger itu adalah ada seorang Ibu Korea di Ulsan yang tanpa sadar mendorong 2 anak balitanya keluar jendela apartemen yang menyebabkan hilangnya nyawa sang anak. Usut punya usut ibu ini sepertinya stress dan baru sadar tindakannya setelah melakukan hal tersebut.   Malang sekali, sudah stress, kehilangan pula 2 anak lucunya yang berusia 2 dan 4 tahun. Huhuhu.. Rasanya remuk redam hati ini mendengar berita itu.

Menjadi ibu, dengan 2 anak yang masih balita, tanpa bantuan asisten rumah tangga adalah hal yang tidak mudah (as you know di Korea ini hampir jarang sekali keluarga yang mempunyai ART mereka lebih memilih anak untuk dititipkan di daycare daripada mencari ART karena mahalnya jasa tersebut).
Selain tekanan dari segi biaya hidup yang tinggi, tekanan menjadi ibu super yang punya anak (harus) pintar, kece penampilannya, les (hagwon) sana sini, sekolah di sekolah favorit merupakan sebuah Pride tersendiri. Sama seperti di Indonesia-pun fenomena mama mama doyan ngelesin anak memang menjamur banget tapi di Korea super duper parah, les-les an atau (hagwon) adalah bisnis pendidikan terseksi di Korea. Kenapa nggak seksi coba? Sudah harganya mahal, bahkan makin mahal makin diminati, makin sok ke amerika-an makin rame ibu ibu masukin anaknya kesana. Malah ada berita juga (masih dari Mommy Meity) kalau ada anak SD yang minta ke ibunya (yang dari kalangan middle low) untuk memperbaiki kualitas menu bekal makannya saja ketimbang uang diirit irit demi masuk hagwon.
Ssstt.. penasaran nggak sih biaya hagwon di Korea?
Well, saya sebagai ibu yang juga ingin anaknya punya skill atau bersosialisasi (karena anak saya masih home education & home schooling) di rumah, maka saya ikutkan cukup seminggu 2x hagwon 1 jam perhari di Munhwa Center (cultural center) dan harganya sekitar 150,000 Rupiah untuk sekali pertemuan. Mahal? buat saya mahal, itupun udah nyesek! hahaha *maklum mahasiswa cuy
Tapi buat ibu ibu yang memang mengutamakan Pride bahkan mereka menghagwon-kan anaknya setiap hari sepulang sekolah.
Pernah tanya berapa sih sebulan spending untuk hagwon? dan si Ibu menjawab sekitar min.18 juta rupiah untuk satu anak. Wow banget kan?
That's why bikin stress si Ibu dan juga bikin stress si anak juga.

Jadi jadi jadi, mau tau cara kita untuk stay cool dan menjaga kewarasan?
Berikut 5 Tips Anti Stress (khususnya untuk Ibu-ibu) di Korea

1. Mendekatkan diri kepada Allah
Ini dia faktor utama kenapa ibu ibu Korea yang mayoritas atheis kurang tawakal. Ya, karena mereka tidak berTuhan. Mereka memperjuangkan mati matian apa yang tampak oleh manusia.
adi penampilan selalu no.1. Kekayaan akan menjadi tujuan utama. Pendidikan tinggi di Sekolah / Kampus favorit. Anak kece ganteng luar dalem, Suami kerja di Perusahaan Besar, dan lain sebagainya. Bahkan kalau rumpi rumpi dengan mereka pasti akan merasa lelah karena yang dibandingkan selalu saja gaji suami, hagwon keren, dan produk keluaran terbaru yang lagi jadi Trend! *serius!
Jadi nih, berbagi pengalaman dikit ye..
Ketika Ruby umur setahun, saya sudah mulai ikutkan munhwa center dan harus didampingi orangtuanya.
 Jadi fenomena yang saya temukan adalah
Pride bisa dilihat dari merk Strollernya (stoke atau yoyo), kemudian baju anak dan ibu nya (harus) kembar dengan model dan merk kekinian. dan ketika di kelas mereka akan selalu update punya HP yang terbaru (samsung 8+ atau I Phone X) thats why konsumsi HP di Korea termasuk yang tertinggi di dunia. Karena mereka selalu tidak akan pernah kelihatan ndeso. Bisa kebayangkan kalau kita ada di posisi ini? Yang di kejar dunia dunia dan dunia. Gimana nggak stress coba? Untung saya orang yang lumayan woles haha.. stroller murah merk china, HP I phone 6S (ketinggalan jauh), Baju blass ga kekinian, tapi saya masih bisa hidup loh! saya nggak stress ngikutin trend, dan saya Happy dan tau dirii dengan kemampuan keluarga kami. Alhamdulillah saya masih punya Allah, jadi tujuan saya bukan hanya dunia, tapi akhirat juga. Alhamdulillah islam mengajarkan hidup sederhana, hidup simple, dan seadanya. Bersyukur guys!!
Terus mendekatkan diri pada Allah di negara mayoritas atheis bagaiamana caranya?
Minimal Ngaji! Sholat jamaah sama suami, Dengerin youtube ustadz-ustadz  (apalagi kecepatan internet mendukung banget) jangan cuma drama doang yang ditonton cuy! Haha.. *ada yang kesindir? *upss

2. Berkumpul dengan komunitas
Kalau di Korea ada yang namanya Komunitas : Rumah Muslimah Indonesia di Korea atau disingkat RUMAISA.  di Rumaisa ada grup Facebook dan Kakao Talk dimana kita bisa bertanya atau sharing sharing tentang kehidupan emak emak di Korea. Mulai dari makanan halal, pendidikan anak, sekolah, cuaca ekstrim, sampai resep makanan semua dibahas di Rumaisa. Nggak pernah kesepian deh kalau masuk grup kakao talk nya, dijamin akan ngakak setiap hari dengan cerita cerita seru rumpi rumpi ala emak emak sholehah *kibasjilbab *LOL
Ya, ini penting banget! Untuk menjaga kewarasan, seperti yang pernah saya bahas di postingan pertama saya "Gara gara Mak Tetty"  salah satunya adalah berbagi cerita. seperti yang saya lakukan saat ini berbagi cerita lewat blog, atau berbagi cerita dengan chat grup (setiap hari) maupun tatap muka langsung di Muslimah Taklim Seoul (sebulan sekali) atau melalui diskusi skype online Muslimah Taklim Cyber (seminggu sekali) yang juga disiarkan secara live di Facebook. Materinya bener bener useful banget dan insyaALLAH akan menambah keimanan kita dan juga meng-upgrade diri kita. Seperti hari ini di acara Muslimah Taklim Cyber ada pelatihan bagaimana menjadi Guru untuk anak-anak
Gambar : MicroTeaching menjadi Guru di Rumaisa School

3. Fokus ke peningkatan kapasitas diri 
Nah, di Korea ini yang saya suka adalah Pemerintah sangat mendukung untuk memberikan pendidikan non formal bagi residence-nya. Bahkan hampir di setiap kecamatan ada Munhwa Center (atau cultural center) mereka menyediakan kursus juga bagi Ibu ibu, seperti kursus memasak, melukis, yoga, piano, bahasa inggris, beuty class dan masih banyak lagi. 
Selain mengembangkan hobi, hal ini juga sebagai salah satu cara agar menghilangkan kepenatan dari rutinitas harian Ibu Rumah Tangga di Korea. Yes, ini salah satu solusi yang baik upgrading diri. Jadi jangan heran bila bertemu dengan IRT Korea rata rata mereka bisa 2-3 Bahasa dan menguasai minimal 2 alat musik. Keren kan? Yes keren banget!
Untuk Foreigner sendiri bahkan diberikan secara GRATIS! gratis guys! serius! Baik banget kan pemerintah Korea? Tapi bedanya foreigner diberikan gratis di pusat Migran Center seperti Seoul Global Center. Saya pernah mengikuti Beauty class selama 3 bulan Free dari Seoul Global Center, dapat sertifikat dan ilmu yang luar biasa langsung dari pakarnya! 
Alhamdulillah, jadi nggak melulu jadi Foreigner itu sengsara di Korea seperti tulisan saya sebelumnya "Beda itu (nggak) Biasa". Tapi justru membawa keberkahan. So manfaatkan lah sebaik baiknya :D

4. Cobalah Hal Baru 
Banyak sekali orang yang menginginkan untuk tinggal di Korea? Mereka berlomba lomba untuk mendapatkan beasiswa, ataupun mencari kerja disini. Jadi jangan sia siakan kesempatan yang Allah berikan kepada kita saat kita bisa tinggal di luar negeri. Banyak sesuatu hal yang baru yang masih sangat bisa di explore dan dicoba sebagai pengalaman kita.
Jalan jalan /Rihlah dengan keluarga keliling Korea,
Coba makanan (halal tentunya) yang ekstreem seperti gurita hidup, atau cukumi super pedas, dan lainnya,
Dan coba kegiatan baru seperti exchange culture dengan Korean dan Foreigner lainnya. Tambah Ilmu, tambah teman, tambah akses, dan gunakan kesempatan itu sebaik baiknya! Ingat, banyak yang ingin menjadi kamu. Jadi please do your best as delegation of Indonesia. :D 

5. Bahagiakanlah Dirimu
Nah ini nih, Di Korea kan rawan banget yang namanya stress ya. Buat ibu ibu stress karena nggak ada ART, semua urus sendiri, dan tetep harus masak sendiri demi makan makanan dengan kehalalan yang hakiki dan mejaga isi dompet.
Sedangkan untuk Mahasiswa ke stressan utama adalah kompetisi dengan orang korea yang sangat pintar dan betah belajar hafalan 3 hari 3 malam, d juga harus betah di Lab 12 jam eksperiment dan nulis paper. Dan beradu/berdiskusi argument dengan Professor bahkan sampai harus betah dan sabar berlama lama lulus S3 *eaa *inimahcurhatsuami :p #ehinicurhatsemuaorang haha..
Jadi solusinya adalah bahagiakanlah dirimu dengan cara yang kamu bisa.
Kalau saya nih, cukup minta suami belikan donat dan saya pun pasti nyengir bahagia. Haha.. Simple kan?
Atau suami saya nih suka banget makanan yang enak (padahal saya ga pinter masak) tapi kalo pas enak masakannya pasti bahagia.
Atau lagi tetangga Lab membahagiakan diri dengan liat Drama Korea biar nggak stress ya silahkan,
atau juga nge-gym atau apa saja yang bisa membuat dirimu bahagia maka lakukanlah. (asal positif ya!) hahaha.. Intinya mah bahagiakan dirimu dengan caramu :D


Akhir kata, Dengan situasi di Korea yang penuh tekanan ini dan dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Semoga 5 tips diatas bisa membantu teman teman yang akan dan sudah tinggal di Korea Selatan. Take it easy aja! Live must go on cuy!
Jangan membebani diri sendiri dan jangan (sok) super. karena kemampuan kita terbatas, namun kuasa Allah tak terbatas. maka Berdoalah!

oya, sebagai pesan sponsor :
Satu nasehat Ibu yang saya pegang sampai sekarang, Berdoalah pada Allah setiap hari
" Ya Allah terimakasih atas syukur-Mu, Rizki-Mu yang berkelimpahan. Mudahkanlah, Berkahilah,  berikanlah hamba keberuntungan."
Intinya rasa Syukur (terus merasa Allah cukupkan) dan memohon keberuntungan (karena orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik di hari esok) 

so Dear readers, 
Semoga kita dijauhkan dari Tekanan hidup dan selalu bahagia dalam lindungan-Nya!
Jangan lupa senyum nya! :D 

Komentar

  1. Bacanya deg degan campur seru, duh di Indonesia itu juga persaingan antar mamak2 tinggi banget, kasian anak2 jadi korban ambisi orang tua jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa nih. Saya juga salah satu hasil ambisi ortu. Hahaha.. smoga saya bs ngerem ambisi ke anak2

      Hapus
  2. terima kasih bund sudah diingatkan untuk selalu bersyukur.

    BalasHapus
  3. Kayaknya aku ga bs hidup dsna...aku kan ga lancar ngomong english sama korea...jd susah ntr kepasar nawar...eaaaaa

    BalasHapus
  4. ternyata biaya pendidikan biaya hidup biaya gaul disana mehong ya mak, kalo gitu di indo aje deh eike... hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk eike jg mau di indo aja ah.. *mlipir

      Hapus
  5. Nah pas bener nih, aku orang nya mudah stress, makasih ya share nya

    BalasHapus
  6. Thank share nya mbsk mutzz...pastinya betul bangeett bsnyakin bersyukur, srmakin kita bsnyak mengeluh bisa menjadikan pribadi kita srmskin rapuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. BEtul mbak dian.. smoga kita termasuk orang yg pandai bersyukur yaa. Aamiin

      Hapus
  7. mantap mba tipsnya... semoga dimudahkan ya mba segala urusanNya...dan diberi kesabaran dalam menghadapi apapun ujianNya, keep spirit cz Allah :)

    BalasHapus
  8. Kereeenn...ibu yang satu ini. Walau tinggal di negeri tapi masih tetap bisa memilah & memilih pendidikan yg terbaik utk anak2nya & tentunya tidak ikut2an terlena dengan persaingan disana :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gara-Gara Mak Tetty

"Mak..mak.. Jadi Emak tuh kudu produktif!" *ngomong sama kaca* Yah gimana mau produktif cuy, mau mandi aja bocil ngintilin, baru makan 2 sendok eh si kakak minta BAB, baru mau masak eh si bungsu udah bangun lagi. Haaah!! * sigh Yah pokoknya mah rasa rasanya 24 jam itu masih kurang buat (alibi) emak rempong,ya gak? Hahaha.. Okelah, Move on, move on .. Jadi begini ceritanya , ini adalah postingan pertama di blog baru saya. Blog sebelumnya (sekitar 8 tahun lalu) mutiarahikma.blogspot.com sudah bersarang laba-laba. To be honest , semenjak kuliah, menikah dan mengalami maternity life saya benar benar merasakan a" blank paper syndrome" . Kenapa? Ya karena  sekarang saya tahu mana angan angan  mana kenyataan. *ciyeh Nah, Jadi kalo ditanya temen lama,.. "Mut, masih nulis buku nggak?" Jawabannya .. "Enggak cuy, sekarang gw udah paham mana pura pura  mana realita." Lol! Hahaha.. *ketawa singa ala  lely sagita* :p Well, buat yang bertanya...

Beda itu (nggak) Biasa

Tengah malam kemarin tiba tiba ada pesan masuk di Instagram saya dari seorang Jurnalis cantik sebut saja Bunga. #ehBunga terlalu mainstream *ganti aja "Inass" *eh itu nama asli ya #eh eh.. *sengaja :p Hahaha.. Jadi si Inass ini tiba tiba nulis begini : "Dek, Apakah ada pengalamanmu hidup dalam keberagaman di Korea, maybe sebagai minoritas, yang ingin kamu share?" Tapi entah kenapa yang terbaca seakan-akan seperti ini: (baca dengan gaya Mata Najwa) ^^ "Baik Ibu Mutia//Apakah ibu pernah mengalami hidup dalam keberagaman/ sebagai minoritas di Korea?// Mungkin ada yang ingin disampaikan kepada Pemirsa???" ngebaca pertanyaannya serasa dengerin pertanyaan dari Najwa Shihab di podium Metro TV.wkwk *ehsalah *UdahMoveOnYa! *Trans7maksudnya *tapikebanyakaniklannya *nyindiirr.. hahaha Okelah sebelum masuk ke jawaban pertanyaan tersebut a s usual saya mau ber mukadimah tentang background si Inas yang 11-12 sama Najwa ini. Well , mereka sama sama perempua...